Senin, 03 November 2008

HARAPAN TERLALU UNGU


HARAPAN TERLALU UNGU


Benarkah tak ada hal
paling mengganggu dari cinta,
selain urat syaraf harapan?
Makanya, cinta itu kian menikam?

Aku sedang habis menjenguk-Nya, kala timbul kerinduan menghubungimu. Lama sudah tak membuka telpon, meski sekedar miskol saja. Ketatnya kerja seakan mengungkung lika-liku pertemuan.

“Ada yang baru di blog-ku,” tuturmu setelah selang lama obrolan berlangsung. “Bacalah!” tambahmu antusias. Aku pun mengamini tutur antusiasmu itu. Kubuka blog-mu dan kubaca. Betapa ada yang bergerincing dalam jiwa. Blog-mu bertutur tentang telpon, penungguan, dan seorang kekasih. Kemungkinan ini untukku, bisikku dalam hati. Isinya pas dengan peristiwa-peristiwaku tentangnya.

Karena itulah, kembali kuangkat telpon.
“Telah kubaca blog-mu. Terima kasih, yah.” Kataku dengan girang.
“Hei, tapi itu bukan untuk kamu..” sergahmu cepat. Aku terperangah. Kurasa ucapanmu barusan seperti lintasan pedang yang menebas kerongkongan, aku jadi sukar berbicara setelah itu. Malunya.

“Ya, sudah. Nggak apa-apa. Yang penting aku sudah membacanya.” Kataku kemudian dengan risau. Sulit jadinya untuk sekedar mencandainya. “Oya, baca juga blog-ku, ya? Di situ, yang berjudul, diary tentang!”

Kalo saja sejarah bisa dihapus, sudah kuhapus sejarah obrolan telpon paling nisbi ini.
“Hei, kawan! Jangan bengong uy!”

Sesuara tiba-tiba terdengar membelah hening. Teman dari kos sebelah.

“Ada apa?”

“Utangmu mana? Lagi bokek nih!” tandasnya tanpa merasa iba. Doh, ini kan bulan sangat tua. Sialan, apes banget sih??!!#%$!!@!!![] 30 Oktober 2008.

Selasa, 12 Agustus 2008

“serupa laut”




Matamu itu badai. Jangan terlalu kuat menatap perahu mungilku. Apalagi menyodorkan putting beliung. Samudra tentu bergemuruh, dan
Membawaku ke tepian.

Aku ini mau ditelisik seperti apa, tetap seperti adanya. Takkan ada perubahan. Sejauh-jauh, kau menelisik tetap takkan timbul perubahan yang kau praduga. Masih, kau tak percaya?

Kau, menduga tentu ada lumba-lumba di bidukku? Perahuku, kosong nona! Isinya satu: hempasan badaimu!

Berhentilah sejenak,
karena perahuku bisa karam karenanya. Maaf, aku kembali ke pinggiran mengaso debar jantung. Kau, terlalu percaya tentang lumba-lumba manis beralis lentik yang pastinya sedang kusembunyikan.

Makanya, kau menatapku sekuat itu. Surabaya Agustus 2008

Rabu, 23 Juli 2008

Yang Berlalu

About my feel……

Ini bab yang paling sulit….Emmmmmmmmmmmmmm……….adel harus jawab pernyataan mas ya….tulisan di balas dengan tulisan kata mas
Yup…mas bagi aq suatu pernyataan hub adalah hal yang ga’ mudah karena itu tidak hanya diukur lewat kata2 tapi juga dinilai lewat perbuatan n seberapa besar ia berkorban……yah intinya perkara cinta itu bukan hal yang muudah…deh….tapi bukan berarti dipersulit
Mas…..duh mau ngomong apa yaaaa…duh mas udah bosen ya’ baca tulisanku…. He….sory banget……bentar lagi selesai kok…sabar ya mas…bentaaaa…r lagi….

Mas…..boleh tanya ga’???? maksudnya “serius” dalam novel mas tu apa????serius yang bagaimana??? maksud ku tau kan?tu lho yang dialog antara Tom dengan alimah…heeee

Ah…..to the point aja deh
Dunia ini adalah pilihan2………dan kita harus menghadapinya dengan ketegasan, ketegasan tuk memilih jalan hidup

Yup…….mas makasih banget ya mas atas perhatian yang mas berikan ke adel, dan itu adalah hal yang saaaaaaaaaangat berharga bagi adel, aq sangat bersyukur bisa mengenal mas….bisa ngobrol dengan mas karena seolah mas adalah jendela bagi adel tuk mengetahui lebih banyak tentang rahasia ciptaanNya….he….kayak buku aja….n its sure from my deep hearth
Tentang perasaan adel……
mas …. Sungguh benar sajak mas yang menyatakan…
“memang tipis batas antara perasaan suka kagum cinta dan ketakjuban. Atau seluruhnya satu esensial:keanggunanNya?........”yah itulah yang adel rasakan yakni keraguan-keraguan dalam mengartikan perasaan yang adel rasakan…….
tapi yang pasti, jika aq bener mencintai mas atau mengagumi mas adalah karena kurasakan getaran ketulusan mas dalam mencintaiNya, kesholehan mas terpancar dari tingkah laku mas, akhlak mas tersalurkan lewat kata-kata mas yang terucap

Ya…Robbbb penuhi jiwa ini dengan cinta-Mu
Cinta karena-Mu
Dan cinta untuk-Mu
Sehingga ku bisa merasakan sejuknya air yang mengalir di telaga hati dan jiwa yang kadang gersang oleh dahaga
penuhi jiwa ini dengan cintaMu,
cinta karena-Mu
dan cinta untuk-Mu
Sampai alunan syahid menjemput dengan keistiqomahan

n…..about our…….

emmmmmm…. however I have a prinsip….. n I think mas paham dengan keadaanku gimana maksudnya mas bisa liat basic adel mungkin…but prinsip tu terbentuk bukan karena basic tapi karena pemahaman adel semenjak dipondok
n intinya….. kita tetep temen aja ya mas, tanpa ada ikatan khusus, karena ikatan suci, saling memiliki karenaNya hanya ada dalam pernikahan ya kan???, aduh kayaknya adel dah ga’ konsen nih……o…ya….aq juga brharap ….mas bisa ngasih tau maksud mas sebenernya ke adel tapi secara langsung…..konkritnya gitu… tapi tu kalo mas mau kalo ga’ juga ga’ apa2 deh….

Mas udahan dulu ya’ o…..yaa….mas jadi minjemin buku lagi ke adel kan????waduh….lagu lama ya….ga’ modal minjem terus…heeeeee. oh yaaa adel juga mau nanya pendapat mas tentang buku yang adel baca itu ke mas, tu lhooo yang iblis menggugat Tuhan….. intinya….iblis itu beranggapan bhwa dia lebih baik dari manusia pertama dilihat dari sisi pencptaannya, manusia dari tanah n iblis dari api….trus iblis menganggap bahwa kutukan Allah kepadanya adalah bentuk cintanya Allah kepada iblis n etc,
oke deh dah dulu ya’ mas…dah malem banget…nih….. mas tetep semangat ya….. I’ll always pray t u’r carefuly….. good luck for u, n may I good u’r friend….
lets we say alahamdulillah for the gretness of Allah, keep our smile n our spirit to Allah…….., coz Allah……….

Ilalliqo’

Wassalamua’alaikum…….

de-javu

Mas, sebelumnya aku minta maaf kalau sikapku yang kemaren2 membuat hati mas tersinggung. Apalagi, sikapku yang kemaren malam. Bukannya aku mengusir mas, tapi aku benar-benar sibuk. Aku tahu, kalau mas mau nuggu aku sampai selesai nyuci. Tapi, aku nggak enak sama mas kalau menunggu lama. Jadi, kuputuskan agar mas nggak nunggu aku.

Oh, yam as…, kalau boleh aku saranin mulai dari sekarng jangan terlalu mikirin aku.

Dan jauhkan aku dari hati mas (bukannya aku GR sich, hehe..) daripada mas terlalu mengharap yang nggak pasti. Aku yakin, pasti masih banyak cewek yang lebih dari aku, dan yang saying sama mas. Tapi, mas jangan beranggapan kalau aku nggak mau lagi temenan sama mas.

Aku pengen, sikap mas ke aku sama seperti sikap mas ke anak-anak yang lain. Dan, aku mohon mas dapat mengerti posisiku saat ini.
Dan, sekali lagi aku minta maaf sebesar-besarnya karena ini dapat kusampaikan lewat surat. Solanya, juju raja yam as aku masih KAGOK kalu berhadapan dengan cowok. Dan, aku mengucapkan banyak terima kasih atas semua yang mas berikan kepadaku selama ini.

Minggu, 25 Mei 2008

SAJAK KEPERGIAN

Bibir kesunyian mulai tampak
Dan kau tetap tak bicara?
Sungguh Jangan ”pergi”

Kalau saja mampu mengulur situasi, ingin mengujarkan itu.
Kenapa menjadi seperti itu.
Bukan itu yang termaksud.
Ingin semua belum berlalu begitu saja. Tetapi,
kemungkinan segala sesuatu menyimpan sejarahnya sendiri. Kalau
saja sejarah bisa ditipu
maka aku ingin tidak menipunya.
Bahwa tak pernah ingin meninggalkan.
Tak pernah ingin melumatkan sejarah
sekaku ini.
;sekeras itu.

Sungguh jangan ”pergi”
”jangan pergi”
kala kau pergi;
hatiku sendiri seolah pun pergi? []



”sungguhsungguhkah tak?”

terbersit tentang bagaimana kabarmu
Ah, sampai mengapa berjanji begitu?
Bukan itu maksudnya

Kalau saja, janji itu tak diletakkan
Kalau saja...
Ah, telanjur terletakkan begitu
;repot menuju

sungguh, bukan itu yang termaksud

Tetapi, memang semacam itu kejadian itu
;tak lagi terkejar meski sekedar menatap meski
dari kejauhan. Sungguh
-sungguhkah tak
ada lagi persuaan? []



”lentik membisik”

malam ini jelagamu lentik membisik
segala sesuatu menjadi gemerisik

berisiknya mengangenkan
kerinduan.

Aduhai,
Sungguh-sungguh tak ada lagikah
persuaan? []

Berkas-Berkas Diary

“... karena, kaulah bom atom mimpiku.”

JALAN KEHIDUPAN memang misterius. Kita tidak pernah tahu, masa mendatang semacam apa. Demikian pula halmu. Saat kupandangi gambar-gambar itu, ada perasaan nisbi mengusik. Aku sadar, pertama, betapa kau memang tidak mencintaiku. Kedua, kenyataan penting bahwa bisa saja dirimu sudah dimiliki. Aku sangat sadar dengan semua itu. Tapi aku selalu percaya pada gesekan takdir. Seberapa perkasa kau menghindar sejauh mungkin, Tuhan selalu menyimpan logika menghadiahkan kebersamaan. Seberapa cerdas aku mengejar-ngejar, jika bukan takdir maka Tuhan pula menyimpan logika kecerdasan khas menampilkan tembok tak tertembus. Sehingga, segala macam teknik dan strategi terbuang menjadi hampa.

Boleh-boleh saja, kau tertawa. Kemudian terbahak keras sekali. Sah-sah saja kau menertawakan keyakinan dan prinsip yang bagimu begitu bodoh dan konyol. Ketahuilah, dengan memampang semangatku tegak di gambarmu, segala pijar semangat spontan menjadi maksim berotot. Apakah kau tahu itu?

Masih ingatkah dirimu tentang mantan-mantanmu? Seberapa besar kau mencintainya? Dan seberapa lihai kau mencegah ketidakabadian hubungan? Dan sudah mengertikah dirimu alasan prinsipil ketidakabadian itu?

Sungguh, hapus airmata itu. Istirahatkan sejenak perasaan itu. Pasang kembali semangat yang sempat tangguh dahulu itu. Hadang kegalauan itu, dan runtuhkan dindingnya. Rata dengan tanah. Lihatlah, di antara reruntuhan kegalauan itu, betapa lapang masa depan menunggu keabadian impian dan cita-citamu. Jangan biarkan dia melenggang lalu jatuh ke bumi. Susunlah kembali dia tegak menjulang melebihi batas-batas angkasa yang biru. Sungguh, sudahi dulu perasaan itu. Tetapkan hati. Kokohkan pikiran tersorong ke sana. Masa depanmu.

Kita beruntung, masih diberi-Nya kesempatan beraktualisasi seluas-luasnya seperti sekarang ini. Dan, tahukah kau? Betapa banyak orang duduk tercenung di sana? Kapan saat-saat memasuki dunia pendidikan dan menjadi manusia terdidik?

Sungguh, ada masa-masa kita mengusahakan sesuatu, dan kemudian di sisi bersamaan kita mesti belajar rela meletakkan hal lainnya. Sungguh, masing-masing ada waktu-waktunya tersendiri. Dan karena sebab alasan itulah, aku masih tetap berdiri untukmu. Sebab, ada saat-saat kita mencintai sesuatu, dan kemudian bertekad memilikinya, juga ada waktu-waktu kita perlu belajar mengurus diri sendiri dulu sebelum mengurus yang lain.

Dengan demikian, berkenankah dirimu
jika suatu saat aku datang dan kemudian menjadi
bagian dari urusanmu yang kuurus?
Selamanya?.

SUNGGUH, aku sedang belajar mengurus diriku sendiri untuk mengurus urusan-urusanmu. Jangan kau bilang aku seorang dan sedang bermimpi. Karena, jika kau buka pintu mimpiku, maka kau akan mengerti kadang mimpi memberikan kekuatannya tersendiri. Sungguh, aku memang sedang bermimpi. Dan kau, bagian dari inti mimpi itu. Aku tak peduli mimpi bakalan jadi nyata ataukah tidak.

Justru karena mimpilah, Enstein menemukan teori bom atomnya. Jepang yang sedang jaya-jayanya menjajah sontak terduduk lemas. Demikian halnya dirimu, kaulah bom atom itu. Dan segera setelah itu, kemalasan yang selalu setia dan sangat lihai menjajahku, seketika tercenung dan tak pernah lagi ingin terbangun. []

“..., bahasa selalu nihil.”

Kadang terpikir bahwa semua ini sia-sia belaka. Meski begitu, aku tetap berdoa untukmu. Tak ada yang lebih menguasai hati selain itu. Aku sadar, betapa muskil apa yang aku lakukan. Tapi aku paham betul, semuanya membutuhkan ketelatenan pada diri dan pada kenyataan hidup dengan segala pancarobanya.

Aku tahu. Aku paham. Aku meyakini segala sesuatu memang semacam ini. Kapan pun berlari, maupun sejenak singgah menghirup napas, pada akhirnya sampai juga pada batas itu. Bahwa segala sesuatu berakhir pada satu bahasan, ruang-ruang ketidakterikatan pada segala ruang dan pada segala hal.

Memang, semua absurd. Tetapi dari sela-sela keabsurdan, sesuatu kemudian tercerna dan mencernakan diri. Aku paham. Tetapi, ini bukanlah cinta gila. Tidak juga cinta buta yang membabi buta. Segala langkah ini berdasarkan logika tersusun. Bahwa logika tertinggi adalah ketidaksusunan segala sesuatu. Makanya, aku menyusunnya sehingga aku paham betul ketidaksusunan itu.

Justru dengan cara begini, pusat konsentrasi kemudian terpusat. Mungkin suatu saat—manakala telah utuh galaksi-galaksi dipadu—kemudian menyaksikanmu tertaut pada selainku, maka itulah hidup. Dari sisi pancaroba antaraku dan di sela-selanya adalah dirimu, aku menemukan sisi lain dari pancaroba yang berbeda.

Aku tak pernah terlintas tentang kepemilikan. Bukan itu yang termaksud. Mencintaimu itu adalah sisi lain hatiku, dan memiliki berada pada sisi lain yang tidak berhubungan. Jika pun kemudian, ternyata pada akhirnya kita tertautkan, maka apa yang lebih membahagiakan?

Meskipun demikian, antara cinta dan kepemilikan sesuatu yang sangat beda. Tentu saja, di saat-saat perasaan cinta tertahta, segala semangat seketika tersangga begitu lega. Akan tetapi, manakala perasaan harus memiliki, tentu bersinggah perasaan tentang legenda luka-luka.

Ini bukan bermaksud alibi. Bukan bermaksud lari dari hukum-hukum luka saat tak memiliki. Akan tetapi, memang antara keduanya merupakan wilayah berbeda bukan?

Memang, bahasan ini sulit dibahasakan. Dan karena sebab itu, diam lebih sempurna daripada sekedar berbahasa yang kadang meluputkan banyak hal dari ruangannya.


“batas obsesi dan cinta”

Memang absurd. Tetapi, aku begitu meyakini batas-batasnya segala sesuatu. Pada puncak batas-batas tertinggi keseluruhan kehebatan manusia, dia tentu akan sampai pada sebuah titik tanpa batas yang membuat dirinya makin terbatas. Pada saat itulah, barisan ungkapan terbaca “oh, aduhai, tuhan! Oh, tuhan! Tuhan! Tuhan?”

Aku tak sedang menggerakkan nalar rotasi ego bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa diusahakan dan terwujudkan hanya bila diupayakan. Ya, benar bahwa manusia memiliki potensi nalar. Dan, dengan nalar itu kemudian dia sanggup membereskan banyak hal. Itu memang benar adanya.

Meskipun demikian, ada batas-batas tertentu dan nalar tidak sanggup menembus. Tentu saja, untuk mendapatkanmu aku wajib mengusahakan; untuk menjadi manusia berpengetahuan, tentu saja seseorang perlu banyak rajin belajar, untuk menjadi kaya seseorang perlu bekerja keras secara maksim. Ya, ini benar adanya.

Tetapi tahukah dirimu? Berapa banyak orang berdarah-darah mengusahakan keseluruhan dirinya, namun tidak kaya-kaya juga? Tidak kunjung mengalami kesuksesan? Apa dirimu pernah menelaah hal ini?

Kasus menarik lagi begini. Berapa banyak orang kaya raya tetap gamang dan kurang bahagia mengalami kehidupannya? Sehingga dia merasa sangat perlu poligami? Sehingga dia merasa penting untuk melakukan KKN demi menambah kekayaannya? Meski taruhannya—jika ketahuan—kasur tempat tidurnya bisa dipindah di kolong pengap penjara? Dan, pernahkah kau mendengar kisah putra pengusaha besar yang blusukan di jalanan dengan pakaian lusuh dan tak terurus dan bergabung dengan orang-orang yang dianggap terpinggirkan?

Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi? Bukankah alasan awal mereka menjadi kaya, tentulah akan bahagia hanya apabila aku menjadi kaya. Lalu, kenapa setelah kekayaan diterima, kebahagian belum pula terenggut-tertaut oleh mereka?
Pernahkah dirimu terpikirkan hal itu? Dengan nalar terbaikmu?

Oleh karenanya, aku tidak begitu peduli dengan ketidaknyataan mimpiku mengenaimu. Yang aku peduli, bahwa ada saat-saat tertentu kita mengalah pada situasi yang tidak terendus oleh batas-batas nalar yang selalu diagungkan manusia modern itu. Dan, ada juga saatnya keseluruhan nalar dilontarkan hingga tuntas demi sebuah tujuan.

Dan, dengan demikian, seribu nalar aku kerahkan mencapaimu. Dan, dengan demikian, dengan realitas absolut aku menerimamu. Tidak terlalu penting, apakah nanti Tuhan akan menghadiahkanmu untukku. Kepentinganku satu saja; nalar maksim mencapaimu.

Dan, mengenai memiliki kebersamaan sempurna denganmu?

Ah, ini benar-benar bukan kepentinganku. Tentu, Tuhan yang lebih berkepentingan dengan hal itu. Percayalah, ada bagian-bagian tertentu dari bola kehidupan yang bergerak dan tergerak secara unik dan misterius. Dan, karena itu, mengenaimu maka satu-satunya logika paling masuk akal adalah menelisik logika-Nya. Bukan logika lainnya?

Dan, dengan demikian, sampailah kita pada batas itu. Batas manusia yang paling manusiawi. Nah, selamat malam manis. Salam dari segala keanggunan salam-Nya. [270208]